TEKS KRITIK SASTRA DAN ESAI

Nama   : Dhia Najmi Permana

Kelas   : XII MIPA 9

Absen  : 08

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia


TEKS KRITIK SASTRA


KRITIK SASTRA NOVEL

“Pulang: Sebuah Petualangan dari Tere Liye”

Oleh: Dhia Najmi Permana



Siapa yang mengaku pencinta sastra yang tidak mengenal Tere Liye? Seorang penulis yang memiliki nama asli Darwis, asal Lahat, Sumatera Selatan. Setelah suskses membuat “Hapalan Sholat Delisa” sampai layar lebar, “Bidadari-Bidadari Surga” sampai dijadikan sinetron, dan “Rindu” yang menjadi best seller, Tere Liye kembali dengan “Pulang”. Penulis yang telah menghadirkan puluhan buku kini menghadirkan tema yang berbeda dari sebelumnnya. Tere Liye sebagai lulusan Fakultas Ekonomi Unversitas Indonesia mengungkapkan hal yang seolah maya dengan amat gamblang dan terperinci mengenai dunia black shadow.

Pulang, sebuah kata yang mengartikan kembali ke asal. Pulang juga bisa diartikan kembali ke rumah, untuk beristirahat, tempat penenang, dan penghilang rasa penat. Sama halnya dengan kisah Bujang. Seorang bocah laki-laki berumur 15 tahun, yang pulang bukan dari perjalanan biasa. Namun pulang setelah petualangan dan melewati pertarungan demi pertarungan.

“Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melaui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.”

 

Novel ini menceritakan bagaimana Bujang, sang tokoh utama, berkembang. Mencari arti dari hidupnya, sedikit demi sedikit mengetahui bagaimana bentuk dunia. Pertarungan, petualangan, penghianatan, kebenaran, kehilangan, dan rasa sakit menjadikan Bujang mengerti dan menghilangkan segala ketakutan di hatinya. Tere Liye menggambarkan perjalanan Bujang berlatarkan dunia pasar gelap atau shadow economy.

“Aku tidak takut, jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat. Aku tidak memiliki rasa takut.” (hal. 1)

 

Tere Liye benar-benar menggambarkan karakter, tempat dan suasana dalam cerita begitu detail dan gamblang. Ia menggambarkan Bujang sebagai karakter utama dengan sangat tersusun perkembangannya, yang awalnya hanya pemuda talang biasa kemudian menjadi seorang jagal nomor satu. Penggambaran tokoh sampingan juga tak kalah mendetail, Tere Liye bisa menggambarkan Guru Bushi yang seorang ninja atau Basyir seorang keturunan Arab yang memiliki perawakan gagah dan setia pada sukunya. Seluruh novel yang telah ia tulis selalu membuat para pembaca berimajinasi. Penggunaan sudut pandang orang pertama, membuat pembaca masuk ke dalam cerita.  Cara Tere Liye menyampaikan apa itu shadaw economy sangatlah apik. Menghadirkan adegan-adegan seperti di film seakan-akan menonton pertunjukan atau pertarungan hebat ditambah ketegangan pertempuran sekaligus perihal kesedihan hidup. Membuat para pembaca mendapatkan pengetahuan dan hiburan sekaligus, Bagaimana ia Menyusun alur cerita yang maju mundur ini tergambarkan dengan jelas tanpa membuat bingung pembaca, dan plot yang mengasyikan yang membuat pembaca penasaran untuk terus membaca kelanjutannya.

 

Ada beberapa istilah yang cukup asing di telinga, yang mengharuskan pembaca googling agar paham maksud dari kata tersebut, misalnya miesoa, illegal logging, inseider tranding, triad yakuza, crutocurrencies, dan khajar.  Ada beberapa kejadian yang agak mengganjal. Seperti saat pertarungan Bujang dan Basyir yang terjadi di lantai 30 suatu gedung, yang berada di jalan protokol ibu kota. Meskipun pertarungan terjadi pada malam hari dan hujan, namun seolah tidak ada orang lain yang menyaksikan pertarungan tersebut, padahal Ibukota pasti selalu ramai 24 jam dengan aktivitas banyak orang. Kemudian pengaturan waktu, pada saat Bujang dan Parwez dirawat di tempat Tuanku Imam, hanya memerlukan dua hari untuk pulih.

 

Sebaiknya Tere Liye memberikan penjelasan di bagian bawah halaman berupa penjelasan istilah-istilah yang digunakan. Hal ini karena, istilah-istilah yang dipakai Tere Liye sangatlah asing. Bagaimana pembaca bisa mengerti alur jika banyak istilah yang tidak dimengerti. Plot dan alur yang unik dan menarik, ditambah adanya penggambaran pertarungan-pertarungan sangat cocok bila dijadikan sebuah film. Namun, Tere Liye tetap harus memerhatikan kemungkinan apakah kejadiaan itu bisa terjadi di dunia nyata? Memang cerita ini adalah fiksi, tetapi tetap belatarkan ibu kota dan Pedalaman Sumatera.

 

Terlepas dari Hal itu, Tere Liye benar-benar penulis yang luar biasa dengan bisa memaparkan tema yang berbeda, yaitu mengenai shadow economy. Novel “Pulang” karya Tere Liye ini ditunjukan untuk kalangan umum. Terlebih untuk orang yang masih mencari arti dari “pulang”. Kepada seseorang yang masih enggan bersabat dengan kebencian dan rasa sakit masa lalu. Dengan diselipkan nasehat dan pengetahuan di setiap babnya. Dibumbui dengan pertarungan-pertarungan menjadikan novel ini sangat cocok bagi pembaca yang menyukai cerita aksi.

 


TEKS ESAI

BAHASANYA INDONESIA?

Oleh: Dhia Najmi Permana

 

Bahasanya Indonesia, itu yang akan dijawab jika ditanya apa bahasanya Negara Indonesia? Bahasa merupakan sebuah alat atau sarana untuk melakukan komukasi dalam kehidupan yang memerlukan sosialisai antar sesama makhluk sosial. Akan tetapi, bagaimana bahasa itu hidup di masyarakat menjadikan ciri dan identitas suatu bangsa.

Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa termudah di dunia yang tidak sulit untuk dipelajari karena memiliki cara pengucapan yang sesuai dengan ejaannya, namun masih saja ada penutur yang salah penggunaannya dalam berbahasa Indonesia. Padahal, dalam Sumpah Pemuda 1928, ikrar ketiga, berbunyi, “Kami purta dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatian, basaha Indonesia”. Dari Sabang sampai Meraukae, dari Miangas sampai Pulau Rote, dengan lebih 200 juta penduduk memahami Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa negara. Ketentuan ini tercantum dalam UUD 1945 pasal 36 yang isinya, “Bahasa Negara ialah Bahasa Indoensia.”

Telah banyak upaya yang digunakan untuk tetap melestarikan bahasa Indonesia, tetapi bagaimana bila masyarakatnya justru merusaknya? Era yang segalanya terbuka ini, menjadikan semua informasi mudah masuk dan keluar.  Dengan bercampurnya informasi berdampak pada penggunaan bahasa Indonesia.

Saat ini penutur bahasa Indoensia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari sudah mulai bergeser digantikan oleh bahasa gaul. Bahasa gaul jika digunakan dalam situasi nonformal akan dapat dipahami, namun sangat tidak tepat jika penggunaan bahasa gaul ini digunakan dalam situasi yang formal. Bahasa gaul banyak digunakan oleh kalangan remaja. Banyaknya pengguna remaja dipicu oleh gengsi dalam diri mereka karena tidak mengetahui bahasa gaul maka remaja tersebut akan dianggap ketinggalan jaman oleh remaja lain.

Padahal Bahasa Indonesia begitu menarik untuk digunakan. Selama ini bahasa Indonesia memiliki sejarah, keunikan, atau ciri khasnya tersendiri. Misalnya, presiden ke-7 Indonesia, Bapak Joko Widodo, menggunakan Bahasa Indonesia dalam pidatonya di pertemuan G-20. Bahasa Indonesia juga bahkan menjadi salah satu bahasa resmi di Vietnam sejak tahun 2007 dan menjadi bahasa yang wajib dipelajari oleh tantara Kamboja. Bahasa Indonesia pernah diperdengarkan di luar angkasa melalui rekaman piringan hitam Satelit Voyager (NASA) pada tahun 1977. Pengguna bahasa Indonesia merupakan penutur dengan lidah paling fleksibel sehingga mudah dalam berlajar berbahasa Inggris. Bandingkan dengan orang India, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia saat berbahasa Inggris. Sefasih apapun mereka, dialek berbicarany pasti masih kental dengan bahasa kebangsaan mereka sendiri. Bahasa Indonesia memiliki keunikan ejaan angka, yaitu setiap angka (bukan bilangan) yang mempunyai huruf awal sama akan berjumlah sepuluh apabila ditambahkan. Sebut saja, angka satu dengan angka Sembilan yang sama-sama berhuruf depan s, bila dijumlahkan menjadi sepuluh. Begitu juga dengan angka empat dan enam yang berhuruf depan e, bila dijumlakan juga sepuluh. Masih banyak keunikan lain yang menjadikan bahasa Indonesia begitu menarik untuk digunakan.

Keunikan bahasa Indonesia sangatlah apik. Tak hanya sejarahnya, tak hanya penuturnya, dan tak hanya aksennya. Bahasa Indonesia telah menjadi identitas jati diri bangsanya. Kita yang notabennya warga negara sudah seharusnya mencintai bahasanya sendiri. Bukti cinta akan bahasa, yaitu dengan melestarikannya. Dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, menjadikan bahasa itu hidup di ruang publik.


Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Teks kritik dan teks esai yang dibuat sudah baik 👍

    BalasHapus
  3. Teks kritik yang dibuat sudah bagus dan sesuai baik itu kaidah kebahasaannya ataupun strukturnya. Teks esai yang dibuat juga sesuai dan cukup menarik.

    BalasHapus
  4. Teks kritik dan esai nya sudah bagus dan sesuai kaidah kebahasaan nya 👍🏻

    BalasHapus
  5. Teks kritik dan esai yang sudah dibuat sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan dan strukturnya

    BalasHapus
  6. Teks kritik dan esai yang ditulis sudah baik, strukturnya sudah sesuai, serta penggunaan judulnya cukup menarik

    BalasHapus
  7. teks kritik dan teks esai nya sudah bagus dan sesuai dengan kaidah kebahasaan nya 🤩🤩🤩🤩🤩

    BalasHapus
  8. Teks Esai yang dibuat sangatlah menarik karena mengangkat topik yang sedang hangat dibicarakan. Teks kritik yang dibuat juga sudah menggunakan unsur dan kaidah kebahasaaan yang sesuai dengan aturan, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus
  9. Teks Kritik dan Esai diatas sudah baik dari mulai kaidah kebahasaan nya struktur dan bahasa yg mudah dimengerti 😉👍

    BalasHapus
  10. teks nya sudah bagus sesuai kaidah kebahasaan sehingga mudah untuk di pahami

    BalasHapus
  11. teks kritik dan esai sangat bagus dan mudah dipahami, kaidah kebahaasannya juga lengkap

    BalasHapus
  12. Teks kritik dan essai mengangkat topik yang menarik. Kaidah kebahasaannya juga sudah sesuai dan dapat dipahami dengan baik👍🏻

    BalasHapus
  13. Teks Kritik dan Esai nya sudah bagus, semangat

    BalasHapus
  14. Teksi kritik dan essai yang dibuat sudah sesuai struktur dan kaidah kebahasaan. Topik essai yang digunakan pun sangat menarik.

    BalasHapus
  15. Teks kritik yang dibuat sudah sesuai dengan unsur, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami selain itu memberikan informasi yang jelas bagi pembacanya. Teks esai yang dibuat juga sangat menarik untuk dibaca dan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus
  16. Teks kritik sudah sesuai struktur dan kaidah kebahasaan. Tambahan kutipan-kutipan dari novel membuatnya makin menarik.

    BalasHapus
  17. Teks kritik sastra dan esai tersebut sudah ditulis dengan bagus serta memperhatikan dengan baik ciri-ciri, struktur, serta kebahasaand dari kedua teks tersebut.

    BalasHapus
  18. Bagus sekali! Sudah sesuai aturan teks essay dan kritik, kebahasaan dan penggunaan tanda baca dan juga yang lainnya sudah bagus dan mudah dimengerti teksnya 😁👍

    BalasHapus

Posting Komentar