Hanya Mengetes Saja
Sebenarnya tulisan ini hasil dari tugas saya di kelas XI. Tiba-tiba ingin di-posting aja hehe... sambil cek masih bisa enggak ya masuk akun blogger saya.
Untuk engaku anak perempuan si pemberani.
Untuk engkau anak perempuan yang tangguh.
Untuk engkau anak perempuan yang menopang segalanya di pundakmu.
Aku tahu semua itu berat, tapi ada kalanya untuk dihempaskan saja.
Aku tahu itu tak semudah yang dibayangkan, tetapi ada kalanya lihatlah sekelilingmu, masih ada orang yang menyayangimu dengan sepatuh jiwanya.
Untuk ayah yang selalu tak kenal lelah.
Untuk ayah yang selalu menyayangi anak perempuannya.
Untuk ayah, terima kasih.
Selamat membaca
Mentari Sang Ayah
Hujan turun, membasahi seluruh kota.
Aku berada di halte depan sekolah, menatapi langit kelabu yang menyambar
pertirnya. Pohon-pohon bergoyang kencang, beberapa daunnya terjatuh di atas
tanah basah. Kujulur tanganku sampai terkena air hujan, dingin rasanya.
“Ayah kok lama banget sih?” Kulihat
anak perempuan disebelahku, memarahi Ayahnya yang datang terlambat.
“Maaf ya nak, tadi Ayah lupa bawa jas
hujan jadi harus pulang dulu ke rumah. Ini jas hujannya dipakai dulu biar gak
kehujanan.” Ayahnya meyodorkan sebuah jas hujan agak robek berwarna kuning, Putrinya
menerimanya.
“Yah kok jas hujannya bau? Ini juga
robek nih jas hujannya.” Melihat jas hujan yang diberkan oleh Ayahnya itu ia
merasa kesal.
“Iya maafkan Ayah ya? Ini mau pakai
yang Ayah saja?” Di tengah angin yang kencang, tangannya agak menggil.
Sepertinya ia sempat kehujanan.
“Gak usah, ribet. Ayo cepet pulang,”
anak perempuan itu menolak ketus tawaran Ayahnya. Aku hanya bisa membisu melihatnya.
Aku menghela napas. Kulihat satu
persatu murid-murid sekolah sudah pulang. Hanya diriku, hanya diriku sendiri
yang tersesisa di halte itu. Sebenarnya aku sudah bisa pulang dari tadi. Tapi
tidak, aku tak ingin pulang, kurasa disini lebih baik. Aku duduk di kursi
halte, menyilangkan kaki lalu menggoyang-goyangkannya, menunggu hujan reda.
Satu-persatu kendaraan melitas di hadapanku, menerjang derasnya hujan. Basah.
Lima menit, sepuluh menit, setengah jam, waktu terus berjalan. Langit mulai membiru,
mulai tampak kembali sinarnya mentari, hujan mulai reda.
“Neng, angkot?” sebuah angkot
berhenti di hadapanku, menawarkan untuk naik. Kuliat kembali langit, kuputuskan
untuk naik.
“Kiri,” kataku tanda meminta angkot
untuk berhenti. Diriku turun dari angkot itu, lalu membayar uang sebesar tiga
ribu rupiah pada supirnya. Membalikan badan, menghadap kesebuah gedung merah
berlantai dua, ramai. Diriku masuk ke dalam gedung itu, lantainya kotor, banyak
sekali bekas jejak sepatu. Melihat ramainya lantai satu gedung itu, kuputuskan
untuk naik.
“Tari!” terdengar suara memanggil
namaku, seorang lelaki paruh baya memakai celemek hitam. Ia mendekatiku, sambil
membawa sebuah centong sayur di tangan kanannya. Aku terkejut, takut dimahari.
Walaupun aku tahu bahwa itu tidak mungkin. Ia terus mendekat, sebuah senyum
sumringah kemudian terpancar dari wajahnya. Ayah.
“Kamu baru pulang nak?” ia bertanya
sambil mengelus rambutku yang agak basah.
“Kamu kehujanan?” wajahnya tiba-tiba
berubah khawatir. Aku hanya melihat tingkahnya dengan wajah datar. Aku mengerti
perasaannya, tapi diriku tak suka.
“Engga,” hanya satu, hanya satu kata
yang keluar dari mulutku. Malas.
“Ya Tuhan, kasihan sekali anakku ini.
Ayo sini duduk dulu, Ayah membuatkanmu sop.” Ia menyuruhku duduk di kursi dan
meja kosong.
Namun tiba-tiba ruangan itu kembali
kedatangan orang. Dia duduk di kursi kosong, di tempat Ayah menyuruhku duduk.
“Pak, baksonya satu.” Kata dia sambil
menunjukan jari telunjuk, tanda memesan.
“Iya sebentar,” yang tadinya seluruh
perhatiannya tertuju padaku tiba-tiba berpindah pada orang itu. Diriku kesal,
aku memilih untuk menaiki tangga.
“Tari jangan mandi dulu nanti masuk
angin, ganti baju aja. Abis itu turun makan sopnya.” Pria itu berteriak dari
arah dapur.
Tak mendengar perintah Ayah, diriku
bergegas ke lantai atas. Kemudian membuka sepatuku yang agak basah sebelum
masuk ke kamar mandi. Ahk, seharusnya aku melepaskan sebelum naik tangga
bukannya disini. Melihat lantai ruko lantai dua itu kotor karena ulah sepatuku,
aku menyesal. Apa Ayah akan marah? Ahk tidak, aku sudah tahu jawabannya. Lalu
kupergi mandi.
Setelah membersihkan diri, aku
kemudian tertidur di atas kasur dengan keadaan rambut basah. Menatap kosong
langit-langit kamar. Putih kecoklatan, kotor karna debu, tanda sudah tua. Lelah,
hari ini terlalu banyak yang terjadi. Lampu kuning tiga puluh watt saja bisa
menyilaukan mataku. kupandang terus seperti terhipnotis.
Aku Tari, lebih tepatnya Mentari. Seorang
anak piatu berusia enam belas tahun. Ibuku meninggal tepat saat aku dilahirkan.
Yang kutahu dari ayah, ia wanita kuat. Tapi aku tak yakin dengan hal itu,
buktinya ia tidak bisa menahan rasa sakit, hingga aku harus terlahir dengann
rasa penuh dosa di dadaku ini. Rasa bersalah.
Lelah, resah, muak, dan marah
tercampur jadi satu di dada, sesak. Helaan napas terus kuulang, menenangkan
diri mencoba melupakan segalanya. Capek. Aku mulai mengantuk, mataku kini sudah
remang-remang. Terdengar kembali rintik-rintik hujan di luar, hujan kembali
turun membasahi kota. Wangi tanah basah kembali tercium, menenangkan diri ini. Seluruh
memori tiba-tiba terputar. Menyakitkan.
“Tari, ternyata rumah lo yang sebelah
pasar itu ya? Di gedung merah tua itu ya?” Tanya seorang anak yang memakai rok
setengah betis, lengan digulung dengan dada membusung, ia tiba-tiba duduk di
kursi tepat di depanku, bersama kedua temannya di belakang.
“Iya?” aku menjawab pertanyaannya
dengan nada bertanya, seolah tak mengerti, mengapa ia tiba-tiba menanyakan hal
itu?
“Oalah pantes, lo gak pernah mau
kita-kita kerja kelompok di rumah lo.”
“Hahaha, iya maaf ya?” aku tak
mengerti, mengapa? Mengapa aku harus minta maaf padanya?
“Hahaha gak apa-apa kali.” Ia
kemudian berdiri dan menepuk punggungku cukup keras. “Lagian kita gak mau kok
harus kerja kelompok di sana, kumuh, bau.”
Dia pergi begitu saja bersama dua temannya
yang mengikutinya dari belakang. Tepukkan keras yang tadi mungkin bukan
seberapa, tapi perkataannya tepat sasaran di tengah titik hati ini. Sakit.
Dalam angkot menuju rumah. Tak
seperti biasanya, angkot itu cukup penuh. Aku berada dalam bagian ujung angkot
itu, sesak. Banyak ibu-ibu yang akan pergi ke pasar pada sore hari untuk
membuat makan malam.
“Eh Tari!” di tengah kesesakan itu ada seorang ibu-ibu yang memanggil namaku. Aku tak begitu kenal padanya, yang hanya kutahu ia Bu Hamidah, pelanggan tetap bakso buatan Ayah. Aku hanya tersenyum tipis padanya, malas bersuara.
“Lihat ibu-ibu, dia mirip sekali ya dengan ibunya ya? Wanita keras.” Ia berkata seperti itu sembari mengelus pahaku cukup keras.
“Hahaha iya, wajahnya juga mirip. Berbeda sekali dengan Ayahnya ya.” Timpal seorang ibu-ibu lainnya. Angkot sudah dekat dengan gedung merah tua itu. Aku cepat-cepat meminta angkot berhenti. Lantas Aku turun dari angkot itu. Buru-buru membayar ongkos dan pergi. Mata ini tak kuasa menahan tangis. Tak memedulikan bagaimana orang-orang menatapku, yang aku inginkan hanya pergi dan bersembunyi. Aku sudah muak dengan semua ini.
“Tari!” Suara pria itu lagi. Sekarang aku sedang tak ingin
mendengar suaranya.
Sampai kamar aku menjatuhkan seluruh
bawaanku ke lantai. Termasuk menjatuhkan raga ini di atas kasur. Menatap
usangnya tembok. Air mata terus mengalir deras, tak terasa bantal-bantal kini
sudah memiliki kubangan air mata. Aku menangis sendirian.
Sorenya, setelah mandi dan berganti
baju, aku turun ke lantai bawah. Kemudian aku duduk di kursi pojok dekat dapur.
Kusandarkan diriku pada tembok merah itu, catnya yang sudah tua sedikit
menempel pada bajuku. Kupandang pintu keluar, banyak orang berlalu-lalang
kesana kemari. Pria itu tiba-tiba duduk di hadapanku, lamunanku terbuyarkan.
“Tari ini sopnya, enak loh… dimakan
ya.” Ia menyodorkan mangkuk bergambar ayam jago, berisi sop itu padaku. Kuambil
sendok yang berada di ujung meja, lalu menyantap sop itu dengan perlahan, enak,
hangat.
“Ayah…” kupanggil ia.
“Kenapa sayang?” ahk, ternyata ada manusia
bersuara selembut ini di dunia.
“Tari boleh ikut bimbel?” aku
mengajukan permintaanku.
“Anak Ayah yang cantik bukannya udah
pintar, belajar sendiri masih cukupkan nak.” Ia menjawab, bukan itu yang
kuharapkan. Tapi tak akan ada seorang pun yang berani menentang manusia
bersuara lembut ini. Aku hanya membisu, kesal.
“Tari tahu? Anaknya Pak Ahmad sudah lahir loh, anaknya
perempuan!” ia mulai
mengoceh.
“Kamu tahu Radi? Tadi dia beli bakso tiga bungkus untuk
sendiri. Kamu kenal diakan
sayang? Katanya kalian satu sekolah!”
Ahk, aku bahkan tak mengenal siapa itu Radi.
“Ibu-ibu kemarin abis arisan, yang
menang Bu Ani. Katanya mau ada makan-makan besar!” Ia mengatakan hal yang
benar-benar tak inginku dengar. Aku membenci mereka.
“Mang Ipang sakit, jadi dia hari ini
gak bantu Ayah. Capek rasanya kerja sendiri.” Ia mengeluh, namun senyum itu
masih ada pada wajahnya.
Kalau capek istirahat, bukannya
banyak bicara! Ingin rasanya kumengeluarkan kata-kata itu padanya. Namun
melihat senyum yang selalu ia pancarkan dari wajahnya, membuat diriku lagi-lagi
hanya diam membisu. Aku kesal.
Seorang anak laki-laki melintasi
gedung kami. Perawakannya kurus, seperti tak terurus. Ayah yang melihatnya
memanggil anak itu. Kemudian ia bergegas kembali ke dapur. Membungkuskan
seporsi bakso, yang kemudian diberikan kepada anak itu. Aku makin kesal,
mengapa ia begitu perhatian kepada orang lain, sementara Putrinya tak ia acuhkan.
Ia kembali setelah memberikan anak
itu sebungkus bakso. Kemudian duduk kembali, dengan senyuman yang sama kembali
muncul di hadapanku. Aku hanya diam menatapnya, lalu kembali menghabiskan sopku
yang mulai dingin.
“Tari besok ke puncak yuk! Besok
warung tutup saja, kamu juga bolos aja sekali-sekali gak apa-apa.” Lelaki itu
tiba-tiba menawarkan sesuatu. Tidak seperti biasanya.
Dia begitu pintar sekali
membolak-balikan hati manusia. Yang awalnya diriku kesal dibuatnya, entah
mengapa tiba-tiba hati ini senang. Tak pernah terbayangkan sekali pun olehku,
hanya berdua bersamanya. Jauh dari keramaian pasar, penuhnya warung bakso, dan
bisingnya jalan. Aku bahagia.
Esoknya, aku bergegas siap-siap untuk
pergi ke puncak hari ini, bersamanya
Kugendong tas berwarna jingga
dipunggungku. Aku berdandan dan menggunakan bajuku yang terbaik. Kemudian aku
buru-buru turun, melihat ia yang sudah berada di luar.
“Ayah, apa ini?” Kulihat ia berdiri
di depan sebuah mobil pik up berwarna hitam.
“Lihat nak, Pak Ahmad meminjamkan
kita ini.” Ia menupuk-nepuk pelan atap mobil itu. “Kita harus naik mobil
kesana, takutnya hujan turun hari ini.” Pria itu bangga pada dirinya sendiri.
Mobil itu bau. Ternyata mobil pik
up itu yang selalu Pak Ahmad pakai untuk mengangkut sayuran dari desa.
Baunya terlalu menyengat, sampai ada beberapa lalat yang hinggap disana.
Suasana hatiku langsung berubah.
Hari itu hujan turun, seperti yang
sudah Ayah perkirakan. Laju mobil semakin
melambat. Menerjang hujan di lintasan
yang licin dan terjal itu tidak mudah. Bersyukur
hari ini adalah hari kerja, jadi
jalanan tidak terlalu macet. Aku yang mulai kesal melihat
semakin lambatnya laju mobil, kapan
kita akan sampai kalau seperti ini?
“Ayah kapan kita akan sampai kalau
laju mobil terus selambat ini? Apa gak bisa
ngebut aja?”
“Jangan sayang, jalanan licin. Kalau tidak berhati-hati kita
bisa kecelakaan.”
“Yah Ayah kok gitu? Nanti kapan kita sampai? Tari bosan.” Aku
merengek padanya.
Akhirnya ia menuruti pintaku. Laju
mobil bertambah menjadi cepat. Tiba-tiba ada sebuah truk yang memiliki beban
cukup banyak melaju kencang dari arah berlawanan. Semakin mendekat ke arahku
dan Ayah. Truk itu kehilangan kendali, dan menbrak tebing yang ada di
sebelahnya.
“BRAK!” suara hantaman truk itu
begitu kencang. Bebannya terjatuh akan mengenai kami. Ayah yang terkaget langsung
membanting stirnya ke arah kiri. Mobil oleng, masuk ke jurang melewati pagar
pembatas. Mobil yang kami tumpangi terjatuh, dan berguling-guling beberapa kali.
“Ayah sayang Tari.” Bisa-bisanya ia mengatakan itu disaat
seperti ini. Senyum yang
berbeda keluar dari wajahnya, senyum
kesedihan. Ia kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan langsung memelukku. Aku
tak tahu harus bagaimana. Kurapalkan
doa sebisaku, berharap kami akan
selamat. Kemudian dunia berubah menjadi gelap.
Aku terbangun disebuah ruangan bernuansa
putih. Bau obat, hanya itu yang bisa kurasakan. Hening, tak ada orang hanya
diriku. Bermenit-menitku menunggu, sepi. Ayah, aku tiba-tiba teringat bagaimana
keadaan pria itu? Aku berusaha merubah posisi tidur menjadi duduk. Pening di
kepala tiba-tiba timbul begitu keras, sakit.
“Tolong!” Aku mencoba berteriak,
namun raga ini begitu sakit, suara yang keluar tak mungkin terdengar.
“tolong,” kataku sekali lagi. Sesak.
Seluruh tulang rasanya mau runtuh. tiba-tiba ada seseorang berjubah putih masuk
ke ruangan. Ia memeriksa keadaanku dengan teliti. Aku tak bisa melihat
bagaimana rupa wajahnya, kepalaku terlalu sakit. Aku lupa apa yang sudah
terjadi.
Tak tahu bagaimana, raga ini sudah
bisa digerakan dengan leluasa. Aku diantar oleh seseorang berperawakan besar ke
suatu tempat yang tampak asing. Orang-orang disana serba memakai pakaian hitam.
Aku menatap suatu gundukan dengan panjang satu meter.
“Ayahmu telah tiada.” Suara itu
tiba-tiba terdengar, tak tahu dari mana asalnya.
Aku yang baru menyadari hal itu, tiba-tiba
terjatuh. Kupegang erat dada yang tiba-tiba sesak.
“Huuaaa!” Diri ini berteriak sembari
menangis.
Tak pernah terbayang sekali pun oleh
diriku hal ini bisa menerpaku. Punggung yang selalu tegap, kini sudah
berbaring. Senyum hangat itu, yang selalu kurindukan takkan pernah terlihat
kembali. Nisan hitam terukir atas namanya. Bunga cantik berwarna lembayung
menghiasinya. Inginku gali gunndukan itu. Bisahkah sekali? Sekali saja kumohon,
aku tak minta sesuatu yang muluk-muluk, bisakah ia bangun kembali dan melihatku
sebentar. Kenapa harus berakhir seperti ini. Tak terasa pipi ini sudah penuh
dengan derasnya air mata. Langit pun ikut menangis. Air hujannya membasahi
Ayah.
Peningnya kepala tiba-tiba kembali.
Kini lebih sakit. sakit yang teramat sakit, sesak yang amat tersesak, raga ini
kini benar-benar telah runtuh. Dunia kembali menjadi gelap gulita.
Diri ini tiba-tiba berada di sebuah
padang rumput yang luas. Matahari tak terlalu terik, banyak awan berwarna putih
di langit. Angin seperti membisik-bisik di telinga. Aku terkejut, kulihat ia
bersama seorang anak kecil. Ia terlihat begitu bahagia bersamanya. Mereka
bermain kejar-kejaran, hati ini tiba-tiba terasa hangat. Kemudian pria itu
berhenti, dan berlutut menghadap sang gadis kecil itu. Dipengang pundak si gadis
kecil dengan penuh rasa kasih.
“Tari harus selalu menjadi mentarinya ayah ya sayang?” Senyum
itu, suara itu yang
selalu kurindukan, sekali lagi bisaku
lihat dan dengar.
“Iya Ayah, Tari akan selalu jadi mentari Ayah.” Ia membalas dengan
senyum.
Senyum gadis itu begitu manis,
membuat gigi ompongnya terlihat. Senyum yang tak pernah kubayangkan akan muncul
dari wajahnya.
“Tari Ayah harus pergi dulu, ingat ya nak, hidup itu harus disyukuri.
Jangan banyak
mengeluh ya sayang? Banyak kok yang
sayang sama Tari di dunia ini. Ingat selalu kebesaran Tuhan ya nak. Ayah sayang
Tari.” Ia kembali tersenyum, kini senyuman iklas yang ada di sana. Ia kemudian
membalikkan badan, meninggalkan gadis kecil itu sendirian.
“Ayah!” Kuterkejut, kemana ia akan pergi. Ia tak boleh pergi,
dengan siapa aku akan
hidup? Aku berlari mengejarnya. Namun
tak sampai. Entah mengapa jarak antara kita semakin jauh. Kini dirinya tak bisa
lagi kupandang. Di tengah aku berlari mengejarnya, aku tersandung oleh sebuah bongkahan
batu yang cukup besar. Aku akan terjatuh. Detik-detik aku akan jatuh aku
menyebut Namanya.
“Hah!” Aku tekejut, napas ini penuh sesak. Air mata terus
mengalir, tak bisa
kuhentikan. Jantung berdegup kencang
Dimana ia? Dimana diriku sekarang berada?
“Sayang kamu kenapa?” Seorang lelaki
membuka pintu dengan wajah terkejut, aku menangis dibuatnya. Ia yang melihat
keadaan diriku, dengan cepat memelukku erat. Tangis kini tak bisa kubendung. Kubalas
dekapannya dengan sangat kuat. Ia pun ikut menangis. ini menjadi menit-menit
seolah emosi kami terhubung satu sama lain. Hening, hanya ada isakan tangis di
rusngan itu. Kini kutemukan kembali, pemilik senyum dan suara lembut yang
selalu kurindukan.
Ayah, tetaplah berdiri di sampingku.
Memelukku erat dengan senyum hangatmu. Jangan tinggalkan aku, dikala aku telah
dewasa. Kemana lagi harusku bagi cerita jika bukan denganmu? Ayah Tetaplah di
sampingku. Memegang erat jemari ini sembari berbagi cerita disetiap harimu. Aku
takut sendirian. Riuh resah penuh sesaknya dunia ini, tak bisa kuhadapi sendirian.
Kau cahayaku, aku cahayamu. Kita sudah berjanji menjadi mentari untuk satu sama
lain. Tuhan, tolong bantu aku mewujudkan semua mimpiku untuk membahagiakannya.
Aku berada di halte depan sekolah,
menatapi langit yang bergitu biru. Pohon-pohon bak menari-nari karena angin
sepoi. Kubangan air bekas hujan kemarin. Kendaraan yang melintas tak terlalu
padat. Kulihat anak perempuan kemarin disebelahku bersama Ayahnya sedang
berbincang ria. Semua dengan cepat berubah, termasuk diriku. Sebab aku mentari sang
Ayah.
Komentar
Posting Komentar